Red Bobblehead Bunny Kasyafa Firesa's Blog: Beasiswa Cahaya Itenas, Menggali Asa Yang Hampir Terkubur

Thursday, April 10, 2014

Beasiswa Cahaya Itenas, Menggali Asa Yang Hampir Terkubur



                  Beasiswa, siapa sih yang tidak kenal dengan istilah yang satu ini? Terlepas mereka bagian dari segenap civitas akademika atau bukan, istilah ini memang sudah memasyarakat dengan sendirinya. Dan tentu rekan-rekan semua pun tahu, setiap beasiswa pasti bertujuan untuk membantu pelajar yang memiliki potensi luar biasa namun terbatasi oleh kemampuan finansial orang tua mereka. Mungkin terdengar klasik, tapi seklasik apapun itu, ribuan ucapan terima kasih harus tetap dikumandangkan kepada kampus serba jingga ini. Karena dalam realitanya, sebanyak-banyaknya gedung perguruan tinggi di Indonesia, baik itu milik pemerintah ataupun swasta, lebih banyak lagi rekan-rekan kita diluar sana yang memilih melamarkan dirinya pada sebuah perusahaan, atau berdiam diri dalam rumah karena tak dapat melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Betapapun banyak sarjana yang lulus dengan IPK cumlaude, lulusan doktor dengan segudang kejeniusannya yang tak tertandingi, tetap masih lebih banyak rekan-rekan kita yang memiliki potensi luar biasa namun tak dapat terasah oleh keterbatasan keadaan. Banyak sekali harta terpendam Indonesia yang belum terungkap hanya karena masalah ekonomi. Banyak sekali potensi yang masih terkubur dan belum semua sempat tergali. Begitu banyak permasalahan ini bermunculan, tapi tahukah rekan-rekan semua, kampus tempat kita berkuliah saat ini, ikut menggali potensi yang hampir terkubur tersebut. Kampus jingga ini telah “mengulurkan tangannya”, turut serta membantu menuntaskan satu demi satu masalah yang datang bertubi-tubi dalam pendidikan Indonesia. Dan, kita patut berbangga karenanya.
        Sederet tulisan ini adalah sebuah patahan kata dari salah satu diantara sekian pelajar yang telah merasakan uluran tangan tersebut. Betapa banyak rekan-rekan penerima beasiswa sangat ingin “berteriak” terima kasih kepada kampus jingga ini. Kumpulan otak cerdas itu akan menyala kembali, setelah cahaya redup hampir menimpa hidup mereka. Potensi mereka akan kembali terasah. Asa mereka akan kembali tergali. Dan, mimpi mereka akan segera terwujud. Bahkan salah satu diantara mereka pun mengaku telah mencoba melamar pekerjaan di berbagai perusahaan usai kelulusannya dikumandangkan, disamping tetap berusaha mencari beasiswa sana-sini untuk mewujudkan mimpinya: melanjutkan studi di perguruan tinggi. Keterbatasan ekonomi yang menghimpit seakan “memaksa”nya untuk mengubur kembali impiannya yang tinggi. Betapa sering deraian air mata itu jatuh diantara rekan-rekan kita yang tidak rela menghapus cita-cita tingginya untuk melanjutkan pendidikan. Dan tahukah rekan-rekan semua? ITENAS menghapus air mata itu. Allah Yang Mahaadil telah menurunkan uluran kasihnya melalui kampus jingga ini. Berpasang-pasang mata itu kembali ceria. Asa itu kembali menggelora. Dan impian itu kembali dapat tergapai. Itenas masih menyadarkan mereka bahwa  hidup itu tak selamanya kejam. Pendidikan yang tinggi itu bukan seperti bintang nun jauh yang sangat sulit mereka capai. Deretan gelar dan prestasi bukan hanya milik mereka yang berkecukupan. Tidak. Itenas telah menegaskan kata “TIDAK” itu besar-besar dalam benak mereka. Dan jiwa-jiwa muda itu telah ber-azzam dengan kuatnya dalam dada mereka, mencoba membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia bukan negara yang bodoh. Indonesia masih memiliki pemuda-pemudi cerdas yang dapat membangun negerinya. Ibu-ibu Indonesia masih melahirkan titisan Presiden Habibie yang memiliki segudang potensi yang dapat terpecahkan dengan uluran tangan ini.
              Mereka, rekan-rekan kita yang merasakan uluran tangan tersebut, mengakui bahwa serangkaian proses seleksi yang dilaksanakan benar-benar bijak dan adil. Penilaian tidak hanya didasarkan pada nilai raport, tetapi juga tes tertulis serta pensurveyan ke rumah sang kandidat. Mendokumentasikan keadaan luar dan dalam rumah, sekaligus mewawancarai orang tua sang kandidat perihal ini-itu. Luar biasa objektif. Rekan-rekan kita benar-benar tersenyum puas dengan proses seleksi ini. Fasilitas yang layak diacungi jempol, sekaligus menjadi poin plus untuk sang kampus jingga. Harapan mereka, semoga fasilitas acungan jempol ini dapat terus menjadi ciri khas Itenas, hingga kelak “Beasiswa Cahaya Itenas” benar-benar menjadi sumber “cahaya” yang dapat menjadi “penerang” sekaligus penunjuk jalan keluar bagi rekan-rekan cerdas kita diluar sana.
           Terakhir yang perlu digarisbawahi oleh kita semua, segera renungkan apa yang kita miliki saat ini. Dapat melanjutkan studi tanpa harus repot-repot mencari beasiswa sana-sini, tanpa perlu melamar pekerjaan di usia dini, tanpa perlu mengeluarkan deraian air mata karena takut kehilangan impian kita. Bersyukurlah. Allah Sang Pencipta “sedang” memberikan kasih sayang-Nya kepada kita. Orang tua kita “sedang” dikaruniakan rizki yang cukup untuk membiayai kita, dan alangkah sangat bijak jika kita mensyukurinya. Menjalani apa yang sudah menjadi takdir kita, menghilangkan keluh kesah atas cobaan yang menimpa. Tidak, kita tidak pantas berkeluh kesah kepada Tuhan yang telah dengan sangat baik menyebarkan naungan rahmat-Nya. Ingat, masih banyak, dan bahkan sangat banyak rekan-rekan diluar sana yang jauh berada dibawah kita, namun mereka tetap tersenyum menghadapi keadaan. Ingatlah bahwa Allah selalu menyayangi kita semua, segala yang ada pada diri kita saat ini adalah milik-Nya. Semua. Semua milik-Nya, yang suatu saat akan diambil dari kita dan kita takkan pernah bisa mengelak. Oleh karena itu, teteskanlah air mata rasa syukurmu, pergunakan apa yang ada sebijak mungkin yang rekan-rekan bisa lakukan.
Teriring salam hangat dari rekan-rekan penerima beasiswa, senyum ketulusan terhaturkan untuk uluran tangan dari Itenas kampus tercinta kita. Bersyukur, berdoa, berusaha. Mari berlomba-lomba menggapai cita-cita kita. Almamater Itenas, BISA!
(Firda Anisah/ Unit KMI/ Teknik Industri 2013)

No comments:

Post a Comment