Beasiswa, siapa sih yang tidak kenal dengan istilah yang satu ini? Terlepas
mereka bagian dari segenap civitas akademika atau bukan, istilah ini memang
sudah memasyarakat dengan sendirinya. Dan tentu rekan-rekan semua pun tahu,
setiap beasiswa pasti bertujuan untuk membantu pelajar yang memiliki potensi
luar biasa namun terbatasi oleh kemampuan finansial orang tua mereka. Mungkin
terdengar klasik, tapi seklasik apapun itu, ribuan ucapan terima kasih harus
tetap dikumandangkan kepada kampus serba jingga ini. Karena dalam realitanya,
sebanyak-banyaknya gedung perguruan tinggi di Indonesia, baik itu milik
pemerintah ataupun swasta, lebih banyak lagi rekan-rekan kita diluar sana yang
memilih melamarkan dirinya pada sebuah perusahaan, atau berdiam diri dalam
rumah karena tak dapat melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi.
Betapapun banyak sarjana yang lulus dengan IPK cumlaude, lulusan doktor
dengan segudang kejeniusannya yang tak tertandingi, tetap masih lebih banyak
rekan-rekan kita yang memiliki potensi luar biasa namun tak dapat terasah oleh
keterbatasan keadaan. Banyak sekali harta terpendam Indonesia yang belum
terungkap hanya karena masalah ekonomi. Banyak sekali potensi yang masih
terkubur dan belum semua sempat tergali. Begitu banyak permasalahan ini bermunculan,
tapi tahukah rekan-rekan semua, kampus tempat kita berkuliah saat ini, ikut
menggali potensi yang hampir terkubur tersebut. Kampus jingga ini telah
“mengulurkan tangannya”, turut serta membantu menuntaskan satu demi satu
masalah yang datang bertubi-tubi dalam pendidikan Indonesia. Dan, kita patut
berbangga karenanya.
Sederet
tulisan ini adalah sebuah patahan kata dari salah satu diantara sekian pelajar
yang telah merasakan uluran tangan tersebut. Betapa banyak rekan-rekan penerima
beasiswa sangat ingin “berteriak” terima kasih kepada kampus jingga ini.
Kumpulan otak cerdas itu akan menyala kembali, setelah cahaya redup hampir
menimpa hidup mereka. Potensi mereka akan kembali terasah. Asa mereka akan
kembali tergali. Dan, mimpi mereka akan segera terwujud. Bahkan salah satu
diantara mereka pun mengaku telah mencoba melamar pekerjaan di berbagai
perusahaan usai kelulusannya dikumandangkan, disamping tetap berusaha mencari
beasiswa sana-sini untuk mewujudkan mimpinya: melanjutkan studi di perguruan
tinggi. Keterbatasan ekonomi yang menghimpit seakan “memaksa”nya untuk mengubur
kembali impiannya yang tinggi. Betapa sering deraian air mata itu jatuh
diantara rekan-rekan kita yang tidak rela menghapus cita-cita tingginya untuk
melanjutkan pendidikan. Dan tahukah rekan-rekan semua? ITENAS menghapus air
mata itu. Allah Yang Mahaadil telah menurunkan uluran kasihnya melalui kampus
jingga ini. Berpasang-pasang mata itu kembali ceria. Asa itu kembali
menggelora. Dan impian itu kembali dapat tergapai. Itenas masih menyadarkan
mereka bahwa hidup itu tak selamanya kejam. Pendidikan yang tinggi itu
bukan seperti bintang nun jauh yang sangat sulit mereka capai. Deretan gelar
dan prestasi bukan hanya milik mereka yang berkecukupan. Tidak. Itenas telah
menegaskan kata “TIDAK” itu besar-besar dalam benak mereka. Dan jiwa-jiwa muda
itu telah ber-azzam dengan kuatnya dalam dada mereka, mencoba
membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia bukan negara yang bodoh. Indonesia
masih memiliki pemuda-pemudi cerdas yang dapat membangun negerinya. Ibu-ibu
Indonesia masih melahirkan titisan Presiden Habibie yang memiliki segudang
potensi yang dapat terpecahkan dengan uluran tangan ini.
Mereka, rekan-rekan kita yang merasakan uluran tangan tersebut, mengakui bahwa
serangkaian proses seleksi yang dilaksanakan benar-benar bijak dan adil.
Penilaian tidak hanya didasarkan pada nilai raport, tetapi juga tes tertulis
serta pensurveyan ke rumah sang kandidat. Mendokumentasikan keadaan luar dan
dalam rumah, sekaligus mewawancarai orang tua sang kandidat perihal ini-itu.
Luar biasa objektif. Rekan-rekan kita benar-benar tersenyum puas dengan proses
seleksi ini. Fasilitas yang layak diacungi jempol, sekaligus menjadi poin plus
untuk sang kampus jingga. Harapan mereka, semoga fasilitas acungan jempol ini
dapat terus menjadi ciri khas Itenas, hingga kelak “Beasiswa Cahaya Itenas”
benar-benar menjadi sumber “cahaya” yang dapat menjadi “penerang” sekaligus
penunjuk jalan keluar bagi rekan-rekan cerdas kita diluar sana.
Terakhir yang perlu digarisbawahi oleh kita semua, segera renungkan apa yang
kita miliki saat ini. Dapat melanjutkan studi tanpa harus repot-repot mencari
beasiswa sana-sini, tanpa perlu melamar pekerjaan di usia dini, tanpa perlu
mengeluarkan deraian air mata karena takut kehilangan impian kita.
Bersyukurlah. Allah Sang Pencipta “sedang” memberikan kasih sayang-Nya kepada
kita. Orang tua kita “sedang” dikaruniakan rizki yang cukup untuk membiayai
kita, dan alangkah sangat bijak jika kita mensyukurinya. Menjalani apa yang
sudah menjadi takdir kita, menghilangkan keluh kesah atas cobaan yang menimpa.
Tidak, kita tidak pantas berkeluh kesah kepada Tuhan yang telah dengan sangat
baik menyebarkan naungan rahmat-Nya. Ingat, masih banyak, dan bahkan sangat
banyak rekan-rekan diluar sana yang jauh berada dibawah kita, namun mereka
tetap tersenyum menghadapi keadaan. Ingatlah bahwa Allah selalu menyayangi kita
semua, segala yang ada pada diri kita saat ini adalah milik-Nya. Semua. Semua
milik-Nya, yang suatu saat akan diambil dari kita dan kita takkan pernah bisa
mengelak. Oleh karena itu, teteskanlah air mata rasa syukurmu, pergunakan apa
yang ada sebijak mungkin yang rekan-rekan bisa lakukan.
Teriring
salam hangat dari rekan-rekan penerima beasiswa, senyum ketulusan terhaturkan untuk
uluran tangan dari Itenas kampus tercinta kita. Bersyukur, berdoa, berusaha.
Mari berlomba-lomba menggapai cita-cita kita. Almamater Itenas, BISA!
(Firda Anisah/ Unit KMI/ Teknik
Industri 2013)
No comments:
Post a Comment